Rabu, 10 November 2010

Pupuk Mahal, Petani Manfaatkan Batang Pisang

CIAMIS, (PRLM).- Menyiasati harga pupuk yang semakin mahal, sejumlah petani di Desa Handapherang, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, memanfaatkan batang pohon pisang untuk menyuburkan sawah. Sebelum ditebar di areal persawahan terlebih dahulu batang pohon pisang tersebut dibusukkan.
''Harga pupuk semakin mahal, petani tentu akan merasa berat. Sekarang saya coba pakai batang pisang untuk pupuk, untuk mengurangi ukuran pupuk yang biasa,''' ungkap Udin (60) petani di Desa Handapherang, Kecamatan Cijeungjing, Rabu (13/10), ketika sedang menyebar batang pohon pisang di sela tanaman padinya.

Dia mengungkapkan, pupuk yang biasa dipakai untuk tanaman padi seperti urea, TSP, dan NPK. Hanya saja karena keterbatasan dana, hanya membeli pupuk campuran urea, TS dan organik yang dijual di warung. Pupuk campuran dibeli Rp 2.700 per kilogram. Sedangan pupuk urea biasa Rp 1.400 per kilogram.
''Kami juga pakai pupuk Agro dengan kandungan pupuk TS yang harganya Rp 1.000 per kilogram. Sebenarnya ada TS Agro yang harganya Rp 1.800, tetapi hasilnya hampir sama,'' tuturnya.
Dari 50 bata sawah yang digarapnya, mendapatkan hasil tiga kwintal gabah. Sedangkan biaya mengolah sawah sampai dengan panen membutuhkan biaya sebesar Rp 250.000. ''Kadang kalau bagus dapat tiga kwintal, tetapi saat kena serangan tikus, cuma mendapat dua kwintal,'' tuturnya.
Berkenaan dengan pemanfaatan batang pohon pisang untuk pupuk, dia juga mengungkapkan pada musim tanam sebelumnya memergunakan rumput dan dedauan yang banyak terdapat di tepi sawah. Hanya saja, lanjut dia, hasilnya kurang banyak. ''Sekarang pakai batang pohon pisang, siapa tahu hasilnya lebih banyak. Ini juga karena kepepet (terpaksa),'' ujarnya.
Salah seorang Tenaga Harian Lepas Tanaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) Asep Agus Hermawan mengatakan apabila pemanfaatan batang pohon pisang sebagai pupuk, merupakan terobosan cukup bagus. Namun demikian ia mengatakan bahwa pemanfaatan batang pohon pisang tersebut tidak bisa menggantikan pupuk organik. ''Apabila sebatas diaplikasikan sendiri oleh petani, itu bagus. Batang pohon pisang tersebut juga tentu tidak bisa menjadi substitusi atau pengganti pupuk organik,'' tuturnya.
Sementara itu Ketua Pemuda Himpunan Kelompok Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Ciamis Wagino mengatakan tindakan mengurangi penggunaan pupuk kimia atau unorganik menjadi pupuk organik, patut dijadikan contoh. Namun demikian butuh sentuhan teknologi untuk mengetahui pengaruh batang pohon pisang sebagai pupuk terhadap tanaman padi. ''Jadi saya kira bukan karena terdesak, tetapi karena memang kreatif. Batang pohon pisang itu nantinya akan membusuk, dan menjadi pupuk alami.'' tuturnya. (A-101/das)***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KOMENTAR

Arsip Blog

Entri Populer

VIDEO